Tahun 2025 menjadi saksi percepatan luar biasa dalam dunia komunikasi, didorong oleh perkembangan teknologi seperti 5G, Internet of Things (IoT), dan kecerdasan buatan (AI). Era ini sering disebut sebagai era hyperconnectivity suatu kondisi ketika manusia, perangkat, dan sistem saling terhubung hampir tanpa jeda. Di tengah kecepatan ini, justru muncul tantangan besar, ketidakpahaman, misinterpretasi pesan, dan fragmentasi sosial. Menurut Manuel Castells (2000) dalam The Rise of the Network Society, "jaringan informasi global menciptakan masyarakat yang bergerak cepat, namun juga membawa risiko eksklusi sosial dan miskomunikasi." Pernyataan ini menjadi semakin relevan di tahun 2025, ketika kecepatan komunikasi tidak selalu sejalan dengan kedalaman pemahaman.
Sunday, April 27, 2025
Tantangan Komunikasi di Era Hyperconnectivity (Ketika Komunikasi Kilat Membunuh Pemahaman)
Tahun 2025 menjadi saksi percepatan luar biasa dalam dunia komunikasi, didorong oleh perkembangan teknologi seperti 5G, Internet of Things (IoT), dan kecerdasan buatan (AI). Era ini sering disebut sebagai era hyperconnectivity suatu kondisi ketika manusia, perangkat, dan sistem saling terhubung hampir tanpa jeda. Di tengah kecepatan ini, justru muncul tantangan besar, ketidakpahaman, misinterpretasi pesan, dan fragmentasi sosial. Menurut Manuel Castells (2000) dalam The Rise of the Network Society, "jaringan informasi global menciptakan masyarakat yang bergerak cepat, namun juga membawa risiko eksklusi sosial dan miskomunikasi." Pernyataan ini menjadi semakin relevan di tahun 2025, ketika kecepatan komunikasi tidak selalu sejalan dengan kedalaman pemahaman.
Friday, April 25, 2025
FOMO Digital (Ketika Gen Z Harus Offline Demi Tetap Waras)
Pergerakan arus era digital yang begitu cepat serta nyaris tanpa jeda, Generasi Z tumbuh dalam atmosfer yang menuntut keterhubungan konstan. Media sosial menjadi panggung utama tempat segala aktivitas, pencapaian, hingga momen keseharian dipertontonkan. Dalam pusaran informasi ini, muncul satu fenomena psikologis yang semakin membayangi keseharian mereka: FOMO (Fear of Missing Out).
Tuesday, April 22, 2025
Budaya Bacot atau Budaya Kritik? (Ketika Generasi Z Mengguncang Tatanan Sosial Lewat Komentar)
Sunday, April 13, 2025
Tantangan atau Peluang? (Strategi Komunikasi Gen Z Menaklukkan Dunia Kerja di Era Teknologi 5.0)
- Latih komunikasi tatap muka secara rutin
- Aktiflah dalam klub debat, organisasi mahasiswa, atau menjadi moderator diskusi. Ini melatih keberanian dan ketajaman berpikir spontan.
- Kelola media sosial secara profesional
- Manfaatkan Instagram dan LinkedIn sebagai etalase pencapaian dan keahlian, bukan hanya untuk gaya hidup pribadi.
- Kembangkan kecerdasan emosional (Emotional Intelligence)
- Kemampuan membaca emosi dan memahami perspektif orang lain sangat krusial untuk membangun komunikasi yang efektif dan empatik.
- Adaptif terhadap gaya komunikasi lintas konteks
- Fleksibilitas adalah kunci: tahu kapan harus formal, kapan cukup santai, dan kapan harus diam untuk mendengarkan.
- DeVito, J. A. (2013). The Interpersonal Communication Book. Pearson.
- Daft, R. L., & Lengel, R. H. (1986). Organizational Information Requirements, Media Richness and Structural Design. Management Science, 32(5), 554–571.
- Katz, D., & Kahn, R. L. (1978). The Social Psychology of Organizations. Wiley.
- Montoya, P., & Vandehey, T. (2002). The Brand Called You: Make Your Business Stand Out in a Crowded Marketplace. McGraw-Hill.
- Kompas.com. (2023). HRD Ungkap Gen Z Banyak Gagal Wawancara Karena Minim Komunikasi. Retrieved from https://www.kompas.com
Thursday, April 10, 2025
MENEROBOS SEKAT GENERASI (Strategi Komunikasi Efektif untuk Gen Z dan Gen Alpha di Era Digital)

Oleh. Krishna Leander
Beberapa strategi yang dapat diterapkan untuk menjembatani kesenjangan ini antara lain:
Sumber Referensi
· Twenge, J. M. (2017). iGen: Why Today’s Super-Connected Kids Are Growing Up Less Rebellious, More Tolerant, Less Happy—and Completely Unprepared for Adulthood. New York: Atria Books.
· McCrindle, M., & Fell, A. (2020). Generation Alpha: Understanding Our Children and Helping Them Thrive. Sydney: McCrindle Research.
· Seemiller, C., & Grace, M. (2016). Generation Z Goes to College. San Francisco: Jossey-Bass.
· Takaza, A. (2023). Strategi Penguatan Kinerja Generasi Z dalam Menghadapi Indonesia Emas 2045. Diakses dari: https://repository.takaza.id/181/1/E%20Book%20Strategi%20Penguatan%20Kinerja%20Generasi%20Z% 20dalam%20Menghadapi%20Indonesia%20Emas%202045.pdf
· Universitas Bina Nusantara. (2025). Mengenal Generasi Manusia Menurut McCrindle dan Hubungannya dengan AI. Diakses dari:
https://pgsd.binus.ac.id/2025/02/20/mengenal-generasi-manusia-menurut-mccrindle-dan-hubungannya- dengan-ai
Monday, January 13, 2025
Komunikasi Inovasi
Komunikasi Inovasi
Oleh: Krishna Leander
Komunikasi inovasi merupakan salah satu aspek penting dalam proses penyebaran ide, produk, atau teknologi baru di masyarakat. Menurut Rogers (2003), inovasi adalah "ide, praktik, atau objek yang dianggap baru oleh individu atau unit lain yang mengadopsinya." Proses komunikasi inovasi bertujuan untuk mempercepat adopsi inovasi melalui penyampaian informasi yang relevan, persuasif, dan sesuai dengan kebutuhan audiens.
Tulisan ini bertujuan untuk memberikan penjelasan mendalam mengenai komunikasi inovasi, termasuk definisi, model, tahapan, faktor-faktor yang memengaruhi, serta tantangan yang dihadapi dalam implementasi komunikasi inovasi. Kutipan langsung dari teori-teori relevan akan disertakan untuk memperkuat pembahasan.
Definisi Komunikasi Inovasi
Rogers (2003) mendefinisikan komunikasi inovasi sebagai "proses di mana pesan tentang inovasi tertentu disebarkan melalui saluran tertentu dari waktu ke waktu di antara anggota sistem sosial." Dalam proses ini, komunikasi memainkan peran sentral dalam memastikan bahwa inovasi dapat diterima dan diadopsi oleh masyarakat luas.
Lebih lanjut, Tidd, Bessant, dan Pavitt (2005) menekankan bahwa "komunikasi inovasi adalah bagian dari manajemen perubahan yang memastikan ide baru tidak hanya diketahui, tetapi juga dipahami dan diterima oleh para pemangku kepentingan."
Model Komunikasi Inovasi
1. Model Difusi Inovasi (Rogers, 2003)
Model ini menggambarkan bagaimana inovasi menyebar melalui masyarakat. Proses ini terdiri dari lima tahap:
Pengetahuan: Individu menyadari adanya inovasi dan memahami cara kerjanya.
Persuasi: Individu mulai membentuk sikap terhadap inovasi, baik positif maupun negatif.
Keputusan: Individu memutuskan untuk mengadopsi atau menolak inovasi.
Implementasi: Inovasi mulai digunakan dalam praktik.
Konfirmasi: Individu mencari penguatan atas keputusan mereka, baik melalui pengalaman langsung atau umpan balik dari orang lain.
2. Model Interaksi Sosial
Menurut Valente (1995), interaksi sosial antara anggota masyarakat memengaruhi keputusan adopsi inovasi. "Proses komunikasi inovasi melibatkan hubungan interpersonal yang memungkinkan terjadinya transfer pengetahuan secara lebih efektif," tulis Valente. Oleh karena itu, jaringan sosial menjadi komponen penting dalam difusi inovasi.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Komunikasi Inovasi
Karakteristik Inovasi (Rogers, 2003):
1. Keunggulan Relatif:
Sejauh mana inovasi dianggap lebih baik dibandingkan dengan solusi yang ada.
2. Kompatibilitas:
Sejauh mana inovasi sesuai dengan nilai-nilai, kebutuhan, dan pengalaman sebelumnya.
3. Kompleksitas:
Tingkat kesulitan yang dirasakan dalam memahami dan menggunakan inovasi.
4. Trialability:
Kemampuan untuk mencoba inovasi sebelum mengadopsinya secara penuh.
5. Observability:
Sejauh mana hasil inovasi dapat dilihat dan diukur.
6. Saluran Komunikasi:
Pemilihan saluran yang tepat (media massa, komunikasi interpersonal, atau media digital) memengaruhi efektivitas penyebaran inovasi.
7. Konteks Sosial dan Budaya:
Faktor sosial dan budaya dapat mempercepat atau menghambat adopsi inovasi. Misalnya, nilai-nilai tradisional atau norma sosial dapat menjadi penghambat.
Karakteristik Adopter: Menurut Rogers, terdapat lima kategori adopter: inovator, pengadopsi awal, mayoritas awal, mayoritas akhir, dan laggard. Setiap kategori memiliki karakteristik dan pendekatan komunikasi yang berbeda. Berikut adalah penjelasan mendalam tentang masing-masing kategori:
1) Inovator (Innovators)
Karakteristik: Inovator adalah individu yang berani mengambil risiko dan bersedia mencoba hal-hal baru sebelum orang lain. Mereka cenderung memiliki tingkat pendidikan dan akses terhadap sumber daya yang tinggi. Mereka juga lebih kosmopolitan dalam orientasi sosialnya dan sering berinteraksi dengan jaringan global.
Pendekatan Komunikasi:
Komunikasi dengan inovator sebaiknya menekankan pada informasi teknis dan peluang eksplorasi. Mereka sering menjadi sumber informasi bagi kategori lainnya.“Inovator adalah individu yang paling berisiko dalam mengadopsi inovasi, tetapi mereka juga yang paling membuka jalan untuk adopsi lebih luas di masyarakat” (Rogers, 2003)
2) Pengadopsi Awal (Early Adopters)
Karakteristik: Kelompok ini adalah opinion leader di komunitas mereka. Mereka biasanya dihormati oleh anggota masyarakat lain karena wawasan dan kemampuannya dalam mengambil keputusan yang bijaksana. Pengadopsi awal memainkan peran penting dalam menyebarkan inovasi.
Pendekatan Komunikasi:
Komunikasi yang lebih personal dan berbasis hubungan sosial sangat efektif untuk kelompok ini. Memberikan studi kasus atau testimoni sering kali berhasil menarik perhatian mereka.
“Pengadopsi awal adalah kelompok yang membantu mengurangi ketidakpastian terkait inovasi melalui rekomendasi mereka” (Rogers, 2003).
3) Mayoritas Awal (Early Majority)
Karakteristik: Kelompok ini lebih berhati-hati dibanding pengadopsi awal, tetapi mereka terbuka terhadap inovasi setelah kelompok inovator dan pengadopsi awal memberikan validasi. Mereka biasanya menunggu bukti keberhasilan sebelum mengadopsi.
Pendekatan Komunikasi:
Pendekatan komunikasi harus berfokus pada manfaat praktis dan bukti nyata dari keberhasilan inovasi. Memberikan data statistik, ulasan positif, atau demonstrasi efektif untuk meyakinkan mereka.
“Mayoritas awal membutuhkan waktu untuk membuat keputusan, tetapi mereka adalah kunci dalam menyebarkan inovasi ke massa yang lebih luas” (Rogers, 2003).
4) Mayoritas Akhir (Late Majority)
Karakteristik: Kelompok ini cenderung skeptis terhadap inovasi dan hanya akan mengadopsinya jika mayoritas masyarakat telah melakukannya. Biasanya, faktor tekanan sosial atau kebutuhan mendesak yang mendorong mereka untuk mengadopsi inovasi.
Pendekatan Komunikasi:
Komunikasi dengan mayoritas akhir harus menyoroti risiko rendah dan keharusan adopsi untuk menghindari ketertinggalan. Testimoni dari rekan sejawat sering kali efektif.
“Tekanan sosial sering kali menjadi faktor penentu dalam keputusan mayoritas akhir untuk mengadopsi inovasi” (Rogers, 2003).
5) Laggard
Karakteristik: Kelompok ini sangat tradisional dan sering kali menolak inovasi kecuali mereka merasa tidak ada pilihan lain. Mereka cenderung lebih tua, memiliki akses terbatas terhadap informasi, dan sangat terikat pada cara lama.
Pendekatan Komunikasi:
Pendekatan komunikasi yang efektif harus bersifat langsung, personal, dan menunjukkan bahwa inovasi adalah solusi yang lebih baik dibandingkan metode lama. Meyakinkan melalui contoh konkret dari komunitas mereka dapat membantu.
“Laggard adalah kelompok yang terakhir mengadopsi inovasi karena mereka sangat berhati-hati terhadap perubahan” (Rogers, 2003).
Masing-masing kategori adopter memerlukan pendekatan komunikasi yang berbeda berdasarkan karakteristik dan tingkat keterbukaan mereka terhadap inovasi. Pemahaman mendalam tentang lima kategori ini memungkinkan perencanaan komunikasi inovasi yang lebih efektif, memastikan bahwa pesan inovasi dapat diterima oleh setiap segmen masyarakat.
Tantangan dalam Komunikasi Inovasi
Resistensi terhadap Perubahan: Banyak individu atau kelompok yang merasa nyaman dengan status quo sehingga menolak perubahan.
Kesenjangan Digital: Akses teknologi yang tidak merata dapat menghambat penyebaran informasi tentang inovasi.
Komunikasi yang Tidak Efektif: Pesan yang tidak jelas atau tidak relevan dapat menyebabkan miskomunikasi dan penolakan terhadap inovasi.
Kurangnya Dukungan Institusional: Proses difusi inovasi memerlukan dukungan dari lembaga atau otoritas yang relevan.
Konklusi
Komunikasi inovasi adalah elemen krusial dalam proses difusi inovasi, yang mencakup penyebaran ide, praktik, atau teknologi baru melalui saluran komunikasi tertentu. Model difusi inovasi oleh Rogers menjadi kerangka kerja yang bermanfaat dalam memahami bagaimana inovasi menyebar di masyarakat. Namun, terdapat berbagai tantangan yang perlu diatasi untuk memastikan keberhasilan komunikasi inovasi, seperti resistensi terhadap perubahan, kesenjangan digital, dan komunikasi yang tidak efektif.
Referensi
· Rogers, E. M. (2003). Diffusion of Innovations (5th ed.). New York: Free Press.
· Tidd, J., Bessant, J., & Pavitt, K. (2005). Managing Innovation: Integrating Technological, Market and Organizational Change. Chichester: Wiley.
· Valente, T. W. (1995). Network Models of the Diffusion of Innovations. Cresskill, NJ: Hampton Press
Wednesday, November 29, 2023
Dramatisasi Netralitas: PANGGUNG PERDEBATAN PEMERINTAH DALAM PEMILIHAN PRESIDEN 2024
Dramatisasi Netralitas:
PANGGUNG PERDEBATAN PEMERINTAH DALAM PEMILIHAN PRESIDEN 2024
Oleh Krishna Leander
Dalam bayangan matahari yang meredup di cakrawala politik menjelang Pemilihan Presiden 2024 di Indonesia, terdengarlah sorotan tajam tentang netralitas pemerintah. Seperti halnya angin yang membelai lembut kisah-kisah romantika, mari kita renungkan perdebatan yang merangkak di benak batin kita, tentang apakah pemerintah dapat bersikap netral dalam proses demokrasi.
Dalam kedamaian malam, kita sering mendengar bisikan-bisikan tentang peran netralitas pemerintah dalam menjaga keadilan dan keseimbangan dalam proses pemilihan pemimpin. Namun, apakah netralitas itu sekadar kata-kata yang terbawa angin, ataukah ia sungguh-sungguh menjadi pilar kokoh dalam menyelenggarakan demokrasi?
Pengalaman hidup mengajarkan kita tentang kebijaksanaan dan keadilan, tentang betapa pentingnya pemerintah untuk menjadi penjaga keseimbangan. Netralitas bukanlah tindakan tanpa makna, tetapi kebijaksanaan yang mampu merangkul keberagaman pandangan. Seperti pohon yang tumbuh subur di tanah subur, netralitas pemerintah haruslah menjadi akar yang kuat, yang memberi dukungan pada tegaknya pilar-pilar demokrasi.
Namun, di tengah kisruh politik yang tak pernah surut, apakah netralitas itu seperti ombak yang datang dan pergi? Apakah pemerintah mampu berdiri teguh seperti pohon yang merangkum keindahan dalam keragaman? pengalaman mengingatkan kita bahwa kebijaksanaan bukanlah sesuatu yang datang dengan mudah. Ia adalah buah dari pemahaman mendalam, kesabaran, dan tekad untuk tetap berdiri di tengah badai.
Dalam pilpres 2024, netralitas pemerintah menjadi tonggak kepercayaan rakyat. Namun, apakah kita hanya menyaksikan netralitas sebagai slogan yang terukir di dinding, ataukah kita melihatnya sebagai pondasi yang kokoh bagi kesejahteraan bangsa?
Pengalaman mungkin akan mengajarkan kita untuk menengok ke dalam diri kita sendiri, untuk menemukan kebijaksanaan yang tak hanya bersifat retoris, melainkan tumbuh sebagai kebenaran yang hidup. Netralitas bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga cermin dari kearifan dan integritas masyarakat.
Jika kita ingin membentuk masa depan yang cerah, mari kita sebagai rakyat mengukur netralitas pemerintah bukan hanya dari kebijaksanaan mereka, tetapi juga dari kebijaksanaan yang tumbuh di dalam diri kita. Sebab, "Anda adalah pemerintah yang sebenarnya, dan kebijaksanaan tertinggi adalah yang tumbuh di dalam hati setiap warga negara."
DIGITAL NATIVE, DIGITAL NOISE (Membangun Komunikasi Berkualitas di Kalangan Gen Z)
Oleh Krishna Leander Generasi Z—kelompok yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012—merupakan generasi pertama yang tumbuh sepenuhnya di ten...
-
Oleh. Krishna Leander Di tengah derasnya arus digitalisasi, dunia komunikasi mengalami transformasi fundamental. Komunikasi kini tak l...
-
Oleh Krishna Leander Generasi Z—kelompok yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012—merupakan generasi pertama yang tumbuh sepenuhnya di ten...
-
Oleh. Krishna Leander Dunia kerja kini mengalami transformasi besar. Kompetisi tak lagi terbatas di ruang kantor fisik, melainkan meluas hi...





