Oleh. Krishna Leander
Pergerakan arus era digital yang begitu cepat serta nyaris tanpa jeda, Generasi Z tumbuh dalam atmosfer yang menuntut keterhubungan konstan. Media sosial menjadi panggung utama tempat segala aktivitas, pencapaian, hingga momen keseharian dipertontonkan. Dalam pusaran informasi ini, muncul satu fenomena psikologis yang semakin membayangi keseharian mereka: FOMO (Fear of Missing Out).
FOMO adalah rasa cemas yang muncul ketika seseorang merasa tertinggal atau tidak terlibat dalam pengalaman yang dinikmati oleh orang lain, terutama yang terlihat di media sosial. Menurut Royantara dkk. (2025), “FOMO terbukti memiliki korelasi positif dengan peningkatan tingkat kecemasan di kalangan Gen Z, terutama akibat tekanan untuk terus mengikuti dinamika sosial digital yang begitu cepat.” (Laaroiba Journal, 2025)
Ketika Media Sosial Menggerus Kesehatan Mental
Kehadiran media sosial yang seharusnya menjadi alat komunikasi, perlahan bergeser menjadi sumber tekanan psikologis. Bukan hanya tentang ketinggalan informasi, namun juga rasa tidak cukup, tidak relevan, bahkan merasa kehilangan identitas diri. Laporan Tempo (2022) menunjukkan bahwa 60% remaja merasa cemas ketika mengetahui teman-teman mereka berkegiatan tanpa keikutsertaan mereka, dan 51% lainnya merasa tertekan hanya karena tidak mengetahui aktivitas terbaru dari lingkaran sosial mereka. “FOMO menumbuhkan rasa takut tak terlihat, tak relevan, dan terlupakan di tengah dunia yang sangat cepat mengalir.” (Tempo, 2022). Tak hanya mengganggu mental, FOMO juga terbukti berdampak pada aspek ekonomi Gen Z. Dalam riset yang dilakukan Yulianto dkk. (2025), ditemukan bahwa tekanan untuk tampil “up to date” secara visual dan gaya hidup membuat sebagian besar responden rela berutang demi memenuhi standar sosial yang mereka lihat di media digital. “FOMO dalam konteks finansial mendorong perilaku konsumtif berlebihan yang mengancam kestabilan ekonomi pribadi Gen Z.” (JUBIKIN, 2025)
Tren Digital dan Mentalitas Konsumtif
Tren yang dibentuk oleh algoritma media sosial membuat Gen Z terjebak dalam siklus pembandingan tanpa akhir. Terlihat keren, update gadget, tampil fashionable—semuanya menjadi semacam kewajiban tak tertulis demi validasi sosial. Website Fakultas Bimbingan dan Konseling UMSIDA menyoroti bahwa:
“FOMO menciptakan dorongan psikologis untuk terus mengikuti tren, bahkan jika itu mengorbankan kebutuhan mendasar atau keamanan finansial.”
(fbhis.umsida.ac.id, 2025)
Keseimbangan Digital (Momen untuk Berhenti)
Namun, kesadaran akan bahaya FOMO perlahan mulai tumbuh. Istilah digital detox bukan sekadar tren, tapi menjadi kebutuhan. Banyak Gen Z kini mulai mengambil langkah mundur: mematikan notifikasi, menjauh dari layar, dan kembali membangun koneksi di dunia nyata.
Laporan Manado Post (2024) menunjukkan bahwa semakin banyak anak muda yang secara sadar meluangkan waktu tanpa media sosial demi menjaga kewarasan mental. “Digital detox menjadi jalan untuk kembali menemukan diri sendiri yang tenggelam dalam banjir informasi dan tekanan sosial maya.”
(ManadoPost, 2024). Langkah ini juga ditandai dengan meningkatnya komunitas berbasis offline, minat terhadap journaling, meditasi, hingga gerakan minimalisme digital yang semuanya berangkat dari keinginan untuk menyeimbangkan kehidupan virtual dan nyata.
Menyusun Narasi Baru (Offline sebagai Pilihan Sadar)
Fenomena FOMO digital bukan sekadar tren psikologis, tetapi sinyal bahwa Generasi Z berada di persimpangan antara konektivitas dan keutuhan diri. Dalam dunia yang terus mendesak mereka untuk selalu online, pilihan untuk sesekali offline menjadi bentuk keberanian yang menyehatkan. Bukan tentang menghilang, tapi tentang hadir secara penuh di kehidupan nyata.
Menyadari bahwa apa yang terlihat di layar bukanlah kebenaran utuh adalah langkah awal untuk melindungi kesehatan mental. Dalam dunia yang memuja keterhubungan, menjaga jarak menjadi bentuk cinta diri yang paling penting. Seperti dikatakan oleh Brene Brown,“Staying vulnerable is a risk we have to take if we want to experience connection.”
Sumber Referensi
· Royantara, M. O., et al. (2025). Peran FOMO dalam Meningkatkan Kecemasan Terhadap Media Sosial pada Generasi Z. EduInovasi: Journal of Basic Educational Studies. Laaroiba Journal
· Yulianto, M. D., et al. (2025). Pengaruh Fear Of Missing Out (FOMO) Di Media Sosial Terhadap Kesehatan Keuangan Generasi Z. JUBIKIN. ejournal.arimbi.or.id
· Tempo. (2022). FOMO, Bahaya Gaya Hidup yang Rentan Dialami Generasi Z. Tempo
· Fakultas BK UMSIDA. (2025). Fenomena FOMO: Apakah Gen Z Takut Ketinggalan? fbhis.umsida.ac.id
· Manado Post. (2024). Fenomena FOMO dan Dampaknya terhadap Kesehatan Mental Gen Z. ManadoPost

No comments:
Post a Comment
Komentar