Perspektif dan Teori Komunikasi
Ilmu komunikasi adalah ilmu yang bersifat multidisipliner, yang berarti bahwa ia mengambil konsep, perspektif, dan metode dari berbagai disiplin ilmu seperti sosiologi, ilmu politik, psikologi, antropologi, dan lainnya. Hal ini karena komunikasi adalah proses yang sangat kompleks yang melibatkan berbagai aspek sosial, politik, kultural, dan individu.
Konsepsi ilmu komunikasi mencakup berbagai aspek dari komunikasi, seperti proses komunikasi, struktur komunikasi, fungsi komunikasi, dan efek komunikasi. Hal ini mencakup komunikasi antar individu, komunikasi massa, komunikasi organisasi, dan komunikasi global.
Perspektif ilmu komunikasi mencakup berbagai pendekatan, seperti pendekatan sosiologis, pendekatan psikologis, pendekatan kritis, dan pendekatan konstruktivisme. Hal ini mencakup analisis konten media, analisis proses produksi media, analisis interaksi sosial, dan analisis perubahan sosial.
Perkembangan ilmu komunikasi sebagai ilmu yang multidisipliner berawal dari munculnya komunikasi massa pada abad ke-20, yang menyebabkan munculnya berbagai teori dan pendekatan yang berbeda dalam menganalisis komunikasi. Ilmu komunikasi telah berkembang dari sekedar studi tentang komunikasi massa menjadi studi tentang semua bentuk komunikasi, baik itu tradisional maupun digital.
Ilmu komunikasi saat ini juga mencakup berbagai bidang yang berbeda, seperti komunikasi bisnis, komunikasi politik, komunikasi krisis, dan komunikasi global. Ilmu komunikasi juga berkembang dalam menggunakan teknologi baru untuk menganalisis dan memahami proses komunikasi. Hal ini menunjukkan bahwa ilmu komunikasi adalah ilmu yang terus berkembang dan multidisipliner.
Teori Dan Model-Model Komunikasi
Teori dan model komunikasi yang dikembangkan dalam ilmu komunikasi, di antaranya adalah:
1. Teori Shannon-Weaver: model komunikasi yang dikembangkan oleh Claude Shannon dan Warren Weaver pada tahun 1949. Model ini menganggap komunikasi sebagai proses mengirimkan pesan dari pengirim kepada penerima melalui kode atau simbol.
2. Model komunikasi transaksional: model yang dikembangkan oleh Paul Watzlawick dalam bukunya "Analisis Kommunikasi: Prinsip-Prinsip Struktural dari Interaksi Sosial" (1967). Model ini menganggap komunikasi sebagai proses transaksi yang terjadi antara dua orang atau lebih dalam interaksi sosial.
3. Model komunikasi berbasis proses: model yang dikembangkan oleh David Berlo pada tahun 1960. Model ini menganggap komunikasi sebagai proses yang terdiri dari beberapa tahap, seperti pengiriman pesan, penerimaan pesan, interpretasi pesan, dan respon pesan.
4. Model komunikasi spiral: model yang dikembangkan oleh Watzlawick, Beavin, dan Jackson pada tahun 1967. Model ini menganggap komunikasi sebagai proses yang terus berulang dan berkembang dalam interaksi sosial.
5. Model komunikasi kritis: model yang dikembangkan oleh teori kritis yang menganggap komunikasi digunakan oleh kelompok-kelompok yang berpengaruh untuk mengontrol opini publik dan tindakan masyarakat
Model-model komunikasi ini diharapkan dapat membantu dalam menganalisis dan memahami proses komunikasi dalam masyarakat. Namun, tidak ada satu model yang benar-benar mewakili seluruh proses komunikasi, sehingga analisis yang berdasarkan pada beberapa model atau teori dapat memberikan gambaran yang lebih luas.
Fenomena dan Permasalahan Komunikasi
Fenomena dan permasalahan komunikasi dapat muncul pada berbagai tataran seperti individu, kelompok dan organisasi serta makro-sosial, baik dalam konteks nasional, regional ataupun global.
1. Pada tataran individu, fenomena komunikasi yang sering muncul adalah komunikasi yang tidak efektif antara individu dan lingkungan sosialnya. Hal ini dapat menyebabkan masalah seperti konflik interpersonal, perasaan tidak diakui, dan kesulitan dalam membuat hubungan sosial yang positif.
2. Pada tataran kelompok, fenomena komunikasi yang sering muncul adalah perbedaan opini dan konflik antar anggota kelompok. Hal ini dapat menyebabkan masalah seperti kesulitan dalam pengambilan keputusan bersama, tidak adanya konsensus, dan konflik yang menyebar ke lingkungan luar kelompok.
3. Pada tataran organisasi, fenomena komunikasi yang sering muncul adalah komunikasi yang tidak efektif antara tingkat manajemen dan karyawan. Hal ini dapat menyebabkan masalah seperti konflik antara manajemen dan karyawan, tidak adanya komitmen dari karyawan terhadap organisasi, dan rendahnya produktivitas.
4. Pada tataran makro-sosial, fenomena komunikasi yang sering muncul adalah komunikasi yang tidak efektif antar negara atau antar etnis. Hal ini dapat menyebabkan masalah seperti konflik antar negara atau antar etnis, diskriminasi, dan tidak adanya kerja sama yang efektif.
5. Permasalahan komunikasi dapat muncul dalam tataran nasional, regional, atau global. Contohnya, permasalahan komunikasi dapat muncul dalam bentuk propaganda politik yang tidak jujur, atau komunikasi yang tidak efektif antar negara yang menyebabkan konflik.